Langsung ke konten utama

RESIDENT EVIL : THE FINAL CHAPTER (2017)

Here it comes!! the most anticipated guilty pleasure of mine.Setelah jeda cukup lama dari Retribution,saya menganggap bahwa mungkin Paul W.S. Anderson lelah mendapat cacian atau memang ia kehabisan ide dan dana tetapi saya salah,ternyata Paul W.S. Anderson masih setia mengakhiri franchise ini bersama istrinya Milla Jovovich alih-alih meninggalkanya hingga terbengkalai(tengok Percy Jackson franchise)Memang franchise Resident Evil sangatlah buruk dan semakin kesini malah semakin buruk,tetapi jujur saja saya cukup menikmati Resident Evil sebagai popcorn movie,apalagi kebetulan saya termasuk fans video gamenya,kemudian lagi kebanyakan saya menonton seri sebelumnya film ini waktu saya masih kecil so apalagi yang di inginkan anak-anak waktu itu selain game yang mereka mainkan bisa disaksikan di layar lebar?Jadi,seburuk apapun filmnya saya akhirnya tetap memutuskan untuk tidak melewatkan this so-called "last chapter" movie of RE Franchise.


Jangan harap melihat pertempuran epik Washington yang ada di akhir Retribution,di awal film ini langsung mengambil setting tiga minggu setelah pertempuran tersebut dan bila kalian bertanya-tanya kemana Ada,Leon,ataupun Jill maka saya bisa menyimpulkan mungkin mereka terbunuh off-screen.Fokus cerita langsung kepada Alice(Milla Jovovich) yang mengembara sendiri dan bertemu dengan Red Queen yang setengah mencurigakan berniat membantu Alice menghancurkan Umbrella.Pesan tersebut berisi tentang Umbrella akan melepaskan T-Virus yang akan menghancurkan sisa manusia di muka bumi dengan penyebaran lewat udara dan kedua adanya antivirus yang diciptakan Umbrella bisa digunakan untuk menghancukan T-Virus dalam artian lain bisa mengakhiri semua ini.Hal tersebut membawa Alice untuk kembali ke Racoon City karena Antivirus tersebut berada pada The Hive.Di perjalanan ia bertemu dengan Claire(Ari Larter) rekan lamanya dan bersama-sama anak buahnya mereka berusaha mengambil Antivirus tersebut untuk menggagalkan rencana Umbrella

Dengan premis macam itu,saya langsung berasumsi bahwa plot kali ini akan mengacaukan plot pada seri sebelumnya dan akan menimbulkan plot-hole(lagi).Sehingga bila saya pun mengosongkan otak dan hanya mengikuti alur cerita yang ada dan  sejatinya The Final Chapter (unexpectedly) memiliki cerita yang cukup menarik dan plot twist yang memang tidak terlalu berguna tetapi mungkin akan cukup menyenangkan hati Fans RE serta menyajikan konklusi yang cukup memuaskan(bagi saya).Tetapi kesalahan terbesar yang tidak bisa saya maafkan adalah: editing.Saya tidak mau susah payah mencari nama sinematografer atau editor di film ini karena saya akan menyalahkannya pada Paul W.S. Anderson.Di adegan awal ada pertempuran yang bisa dibilang terdiri dari 30 cut per menit sehingga bersiap-siaplah anda untuk merasakan sedikit merasa pening di kepala dan perih di penglihatan.


Mungkin visi Paul mengambil adegan action dengan mengambil angle di berbagai arah adalah menaikkan tensi sehingga memberi suspense sesak pada penonton,tetapi disini saya benar-benar merasa sesak dan ingin rasanya memejamkam mata dan keluar dari bioskop.Dan hal ini tidak terjadi sekali saja,melainkan berkali-kali seolah jarum jam.Sama halnya dengan sound editing and mixing.Meski beberapa monster harus saya akui cukup menyeramkan dan menghadirkan kesan horror,namun yang terjadi disini saya hanya ketakutan karna gelindang telinga saya yang mungkin akan pecah setiap saat.Paduan jumpscare berlebihan dan sound editing yang sangat memekakkan telinga serta cut yang sangat banyak sukses mengusir penonton dimana mungkin itu adalah keahlian Paul W.S. Anderson.Bagi anda yang bersabar mungkin anda akan sekedar menutup Mata dan Telinga,dan bagi anda yang tidak sabaran maka anda pasti keluar dari bioskop.Musik yang diberikan sangatlah tidak efektif sehingga saya hampir lupa apakah ada musik dalam film ini.Saya dapat membuat sebuah tiga tahapan musik dalam film ini,yakni adalah "musik-keheningan-jumpscare".Jadi jika anda tidak ingin telinga anda sakit,ikuti saja pola tersebut dan telinga anda selamat.Dan soal cgi dan special effect saya cukup terkesan,dengan budget 40$ Juta jauh lebih rendah dari seri sebelumnya,maka sajian di film ini cukup memuaskan,seburuk apapun efeknya saya tidak bisa menyalahkan.Dan hal yang saya sukai di film ini adalah beberapa action sequence cukup menghibur karena aksi laga milik Milla Jovovich yang berlawanan dengan filmnya.Jika RE Franchise semakin kesini semakin buruk,maka Milla Jovovich semakin kesini semakin baik.Aksi laganya lebih variatif (tengok adegan laga dimana kaki Alice digantung dan dikepung lima petugas Umbrell) dan Milla sukses memberi kesan bad-ass heroine dan juga sanggup melakoni adegan emosional tanpa kehilangan karakter Alice yang dingin,bahkan soal laga saya bisa bilang bahwa Milla sebagai Alice jauh lebih menarik dan badass yang di dukung dengan aspek gore dan violence yang lebih bebas ketimbang Scarlet menjadi Black Widow yang kurang bebas karena hambatan rating PG-13 di film Avengers).Hal kedua yang saya nikmati adalah banyak tribute yang diberikan pada film-film sebelumnya seperti kata-kata ikonik Red Queen "You're all going to die down here" hingga jebakan laser.
                             
                             SUMMARY

Akhir kata,saya sebagai fans RE masih merasa cukup puas meski aspek editing bisa dibilang adalah yang terburuk dari seluruh seri film ini.Tapi toh film ini sukses menjadi popcorn movie favorit saya dalam franchise RE setelah seri pertama dan kedua,namun apabila anda non-fans atau kecewa dengan installment keempat dan kelima maka mungkin kenikmatan anda menonton film akan berkurang.Bila memang film ini bukanlah yang terakhir,saya tetap menikmati adanya reboot dengan catatan:ganti sutradara atau tinggalkan Resident Evil selamanya.

RATING : 5/10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WELCOME TO SINESTEZIA ! ! ! 🎉🎉

Pertama tama mari saya memperkenalkan diri. Nama saya Bobby,anda bisa panggil saya bobby atau apapun yang anda inginkan(ehe). Jadi apa itu Sinestezia ? Sebenarnya saya memiliki blog lain sebelum ini dan namanya serupa,yaitu Sinestesia.Lalu kenapa bikin lagi?yah.Anda tau sendiri manusia tak luput dari kesalahan,seperti kesalahan dalam melupakan email dan password blog tersebut sehingga saya tak perna memposting lagi selama 4 bulan. Huft.Maaf malah jadi curhat perihal blog saya dulu(ehe)langsung ke poin saja ya.Jadi di blog ini anda akan menemukan berbagai hal mulai dari review musik,film,dan banyak hal.Namun saya hanya akan mengutamakan review film(karena yah ehe film lebih mudah sih).Sedangkan untuk musik saya mungkin hanya memposting beberapa kali saja. Oh iya,disini saya ingin berkata kalau saya bukan berlagak menjadi kritikus film,namun ini hanya sekedar hobi saya saja menulis.Saya sangat menyukai film namun maaf apabila saya lebih dominan memposting film luar negeri,...

89th ACADEMY AWARDS PREDICTION

Persaingan tahun ini tergolong dingin dan tidak terlalu sengit.Tidak seperti tahun lalu,empat film bersaing sekaligus untuk meraih nama Best Picture.Namun bukan berarti Academy Awards tahun ini melempem.Bukan lagi menunjukkan persaingan sengit,namun menghadirkan kejutan luar biasa dan sekaligus membuat historical events dalam Academy Awards.Mulai dari La La Land yang mendapat total empat belas nominasi(Slay!)memecahkan rekor sebagai film musikal yang paling honorable sepanjang sejarah sekaligus rekor Titanic yang meraih tiga belas nominasi,hingga Meryl Streep yang menorehkan rekor juga dengan mencapai angka ke-duapuluh kalinya ia dinominasikan di ajang Academy Awards.Tak hanya itu,banyak isu rasisme terhadap kulit hitam mewarnai seperti gerakan berupa #OscarSoWhite.Entah mengapa saya tidak terlalu paham dengan masalah tersebut(mungkin karena kehadiran Hidden Figure,Fences dan Moonlight di tengah kehadiran Trump). Itulah sedikit mengenai apa yang terjadi pada Academy Award tahun ini,...

HEREDITARY (2018)

       Keyakinan saya pada kualitas film horor modern muncul ketika  The Conjuring  hadir di tengah kita dan memuncak saat saya mengetahui  Get Out  memenangkan piala  oscar  dan meraih banyak  nominee . Saya mulai memperhatikan perkembangan film horor dengan berbagai macam genre bahkan  horror-comedy . Kala kritikus dan penonton  Cannes  dibuat ketakutan sekaligus terperangah hingga menyatakan film ini adalah film terseram sejak  The Exorcist , maka antusiasme saya semakin tinggi dan tidak terlalu khawatir untuk kecewa karena terdapat campur tangan rumah produksi A24 dalam film ini.       Jika anda sudah melihat  dan familiar dengan karya Ari Aster dengan film pendeknya seperti  The Strange Things About Johnsons  atau  Beau , maka  Hereditary  adalah debut yang sangat memuaskan mengingat ini adalah  full-leng th  feature film  pertamanya seka...